Toge Goreng dan Saya

Jadi.. seminggu ini saya berkutat dengan perasaan masygul karena merasa punya hutang tugas dan janji. Mungkin karena tidak lagi terbiasa menulis saya kesulitan mengembangkan topik yang ditentukan (padahal topiknya saya sendiri yang memilih).

Ternyata mengatakan “Tulis aja! Lepasin aja!” lebih gampang daripada melakukannya. Aaah seringkali saya hanya bisa berjanji tanpa bisa menepatinya tepat waktu.

Oke deh, saya akan coba kuak (halah) soal persamaan toge goreng dan saya. Seperti biasa tulisan ini lagi-lagi akan bicara soal ‘saya’.

wp-1476031015917.jpeg

Waktu awal melihat foto di atas, mba Vivera (Di Kelas Dua Rupa Online) sempat bertanya, Ini gado-gadokah? Atau lotek? Atau kupat tahu?

Saya lalu memperhatikan foto ini dengan seksama dan menyadari kalau saya memang membuat kesalahan. Foto ini tidak bercerita.

Selama seminggu saya memikirkan apa yang ingin saya ungkapkan dari toge goreng ini. Saya pernah menulis tentang dimana saja bisa menikmati toge goreng di Bogor, saya pernah membahas isi toge goreng, saya juga pernah menulis berbagai macam resep toge goreng. Lalu terpikir untuk menulis soal filosofi toge goreng.. tapi bahkan arti filosofi saja saya tidak tahu (aah).

Sebenarnya dari awal sudah tepikir sesuatu hal yang ingin saya utarakan soal toge goreng ini tetapi karena merasa temanya kurang oke jadi saya menimbang-nimbang begitu lama. Tapi waktu berjalan cepat dan saya belum lagi menemukan ide yang lebih baik (sigh). Jadi saya akan coba menjelaskan persamaan saya dengan toge goreng atau dengan foto di atas.

Jadi begini saya selalu merasa banyak orang yang tidak mempercayai saya di awal pertemuan. Sejak jaman sekolah saya terbiasa dipandang dengan perasaan ragu, “Memangnya dia bisa?”

Bahkan pernah sewaktu kuliah dan ada pemilihan sesuatu (saya lupa apa itu ngga terlalu penting juga sebenarnya), ada yang memandang saya sekilas lalu dengan lantang mengatakan, “Apa ngga ada yang lain?”

Huhuhu rasanya terpukul sekali. Tapi saya menyadari kok saya memang bukan orang yang ‘Kesan pertama begitu menggoda’.

Trus apa hubungannya sama toge goreng atau foto diatas?

Intinya sama sih. Sebelum mengenal toge goreng banyak orang yang meragukan enaknya karena tampilannya memang kurang oke. Atau bahkan bertanya namanya toge goreng tapi kok direbus dan banyak pertanyaan lainnya.

Makanan ini termasuk yang harus diubek supaya bisa terasa kenikmatannya (halah). Walau setelah mencoba tidak semua orang suka juga sih hahaha.

togegoreng2Begitu pula foto diatas yang harus diperhatikan dengan sangat seksama dulu atau diambil dari sudut pandang yang berbeda baru bisa terlihat lebih jelas apa yang mau diceritakan.

Sama seperti saya, orang harus mengenal saya dulu sebelum menyadari potensi saya (eaa ge er). Intinya, tak kenal saya maka takkan sayang ^_^

Ada beberapa hal sih yang saya pikirkan untuk membantu saya menyingkirkan perasaan kesal karena dianggap sepele atau merasa diremehkan seperti itu (beberapa hal dibawah saya dapatkan juga saat membaca artikel di internet):

  • Menarik nafas panjang dan berusaha berpikir jernih. Jangan cepat “membaca pikiran” orang lain atau mengasumsikan pendapat orang lain karena siapa tahu kita salah. Jika kita salah, hal itu akan tidak adil untuk kita dan tentu saja untuk orang lain. Intinya ngga usah suudzon (tuh kan balik lagi. Emang ni sifat saya buruk banget).
  • Memperhatikan siapa yang saya anggap meremehkan. Biasanya saya sering merasa diremehkan oleh orang yang tidak terlalu mengenal saya. Untuk yang ini tampaknya saya harus belajar memaafkan karena bagaimana mereka bisa tahu potensi kita sedangkan mereka tidak tahu apa-apa soal kita.
  • Mengukur keyakinan pada diri sendiri. Mungkin perasaan merasa diremehkan timbul karena saya sendiri tidak punya kepercayaan pada diri saya sendiri. Kasarnya tidak menghargai diri sendiri. Mungkin (atau memang) saya menganggap diri saya sendiri “tidak berharga”, “tidak berguna”, atau bahkan “bodoh” jika tidak mendapat pengakuan orang lain. Yang tampaknya saya memang sering merasa seperti itu.
  • Memikirkan apa yang saya inginkan. Saya tidak ingin merasa diremehkan, saya tahu itu tapi apa sih sebenarnya yang saya inginkan? Ini saya dapatkan dari artikel yang saya sebut diatas, katanya, “Buatlah daftar hal-hal yang ingin Anda ubah dalam hubungan dengan orang lain. Setelah mengetahui interaksi yang Anda anggap ideal, Anda akan bisa bertindak dengan lebih baik untuk mencapainya”.
  • Tapi yang paling mudah yang seperti teman saya selalu bilang sih, “EGP aja kenapa sih!” (Ih emang saya mah orangnya baper banget. Heeeuh)

Menjadi orang yang selalu diragukan memang tidak mengenakkan. Tapi saya bersyukur orang-orang yang mempercayai kemampuan dan potensi saya adalah orang-orang terbaik dalam hidup saya.

Mariii makan toge goreeng!

Iklan